Home » Info Nasa » RED WATER SYSTEM

RED WATER SYSTEM

Info Perikanan NasaRed Water System (RWS) adalah salah satu cara baru dalam kegiatan budidaya ikan lele dengan memanfaatkan bakteri Lactobacillus dan Saccharomyces dalam proses pembesaran benih ikan lele tanpa ganti air kolam hingga panen dengan cara fermentasi yakult, ragi tape dan molasses (tetes tebu).

Kolam Red Water System hanya ideal untuk penebaran benih ikan lele dalam jumlah 300 ekor/m3 (tanpa aerasi) dan 500 ekor/m3 (dengan bantuan aerasi) tanpa perlu ganti air hingga panen. Sistem ini sangat cocok bagi anda yang terlalu sibuk dengan kegiatan lain ataupun yang malas berurusan dengan sedot-menyedot kotoran ikan lele di dasar kolam.

Sebagai catatan, agar tidak terjadi boming kotoran ikan yang tidak terserap semua oleh kedua bakteri tersebut, maka penting untuk menempatkan arang di pinggir-pinggir dinding kolam sebanyak 1 kg/m3 (bukan di bagian dasar kolam) yang berfungsi untuk menyerap sisa kotoran ikan yang tak dimakan oleh bakteri Lactobacillus di dalam air kolam lele.

Proses Aplikasi Red Water System :

  • Bahan-Bahan :
  1. Air bersih = 18 liter.
  2. Yakult = 4 botol.
  3. Ragi tape = 2 butir.
  4. Molasses (tetes tebu / gula jawa / gula merah) = 1 liter.
  5. Air kelapa murni dari 1 butir buah kelapa yang sudah tua.
  6. Jerigen 20 liter = 1 unit.
  • Cara Mengolah Bahan :
  1. Masukkan air bersih 18 liter ke dalam jerigen bersih.
  2. Tuangkan 4 botol yakult, 1 liter molasses, 2 butir ragi tape (yang sudah ditumbuk halus) dan air kelapa murni ke dalam jerigen yang telah berisi air bersih.
  3. Kocok jerigen selama 1-2 menit agar semua bahan-bahan terlarut merata.
  4. Simpan jerigen beserta bahan-bahan tersebut selama 6-7 hari agar terjadi proses fermentasi dengan sempurna yang akan ditandai dengan cairan di dalam jerigen berubah warna menjadi cokelat dan berbau alkohol.

Cara Aplikasi Bahan Pada Kolam Ikan Lele :

  • Kolam yang telah berisi air bersih bebas kandungan logam berat beserta benih ikan lele diberi tetesan fermentasi yakult, molasses, ragi dan air kelapa yang sudah jadi di jerigen setiap hari secara merata ke seluruh permukaan kolam. Setiap 1 m3  kolam, ditetesi 100 ml bahan fermentasi tersebut atau setara dengan ½ gelas.
  • Sisa bahan fermentasi tetap disimpan di dalam jerigen untuk digunakan lagi pada hari-hari berikutnya. Lakukan penetesan bahan fermentasi itu setiap hari dengan jarak waktu 24 jam.
  • Letakkan arang di pinggir-pinggir dinding kolam sebanyak 1 kg/m3 (bukan di bagian dasar kolam) yang berfungsi untuk menyerap sisa kotoran ikan yang tak dimakan oleh bakteri Lactobacillus di dalam air kolam lele.

Akibat penetesan bahan fermentasi di atas setiap hari, maka dari hari ke hari air kolam akan berubah warna perlahan-lahan dari warna hijau, cokelat hingga menjadi warna merah muda.
Jangan panik dengan air menjadi berwarna merah, karena sesungguhnya air kolam seperti itu dalam keadaan sangat sehat bagi ikan dan sangat minim kotoran ikan karena telah di makan oleh bakteri Lactobacillus dan juga diserap oleh arang yang di letakkan di pinggir-pinggir dinding kolam.
Disarankan untuk memasang 2 titik selang aerasi udara yang bertujuan untuk mengaduk bakteri Lactobacillus yang mengendap di dasar kolam agar dapat terus berada merata di semua area kolam.

Pemberian Pakan Ikan Lele :

Pakan (pelet) yang akan diberikan pada ikan lele disarankan untuk direndam dulu dengan air hangat lalu didinginkan dengan cara diangin-anginkan sebelum ditebar ke kolam. Pelet yang kurang lembut sering menjadi penyebab perut ikan kembung dan luka pada usus yang akhirnya menimbulkan kematian pada benih lele.
Kasus perut kembung pada benih lele juga sering terjadi saat peralihan pelet misalnya dari pelet FF 999 menuju ke pelet 781 (-1) dan seterusnya.
Pemberian pakan pada sistem ini tidak diperlukan lagi probiotik, karena hasil fermentasi bahan-bahan Red Water System ini juga adalah probiotik. Gunakan Produk Nasa yaitu Viterna dan Hormonik untuk suplemen lele.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  • Atasi sumber air sumur / sumur bor dari kandungan logam berat seperti, zat besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu) dan alumunium (Al) dengan filter karbon aktif, atau dengan penaburan kapur dolomit sebanyak 300 gram/m3 pada seluruh permukaan air kolam (jumlah dolomit disesuaikan dengan luas kolam dan tinggi air yang direncanakan).
  • Penetesan bahan-bahan hasil fermentasi yakult, molases, ragi, dan air kelapa sesuai dosis yang dianjurkan hanya dilakukan hingga air kolam berubah berwarna menjadi merah. Jika air kolam sudah berwarna merah, maka penetesan hasil fermentasi tersebut harus dihentikan.
  • Proses perubahan air kolam menjadi merah saat diberikan tetesan bahan-bahan hasil fermentasi itu adalah diawali dengan perubahan air kolam menjadi warna hijau bila matahari terang terus menyinari air kolam, selanjutnya dari air hijau akan berubah menjadi warna cokelat dan akhirnya air kolam berubah menjadi warna merah. Ketika sudah berwarna merah, penetesan bahan-bahan fermentasi dihentikan.
  • Pada bagian lain, air kolam juga bisa berubah menjadi warna hitam, jika proses penetesan bahan fermentasi pada air kolam tidak memperoleh sinar matahari yang cukup (karena sering hujan/mendung). Maka proses RWS dapat disebut rusak, sebab itu sebelum air kolam menjadi warna hitam, maka segeralah air kolam dibuang 10% dan diganti dengan air yang baru 10% dan dilakukan dalam beberapa hari sambil terus diteteskan bahan-bahan hasil fermentasi tersebut sampai air berubah menjadi merah.
  • Jika suatu hari mencium air kolam merah mulai berbau, maka kurangi pemberian pakan atau dipuasakan sehari yang disertai dengan memberikan kapur dolomit pada air kolam.

Demikian info lapaknasa yang bisa kami persembahkan untuk anda dan semoga menjadi bahan acuan dalam berbudidaya. Sukses Selalu Untuk Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *